Maka, inilah makna kehidupan. Allah tidak pernah menciptakan sesuatupun tanpa tujuan. Inilah hidup. Semua selalu ada hikmahnya. Janji ALLAH yang pasti, menyatakan kebarokahan akan di dapat oleh orang-orang yang bertaqwa. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi , jika kamu orang-orang yang beriman” (3:139).
Dan sudah menjadi aliran yang mengalir pasti, setiap yang dicintai olehNya selalu diberi “jalan” untuk mendekat padaNya. Rintangan, cobaan, badai, hantaman. Semuanya akan di berikan, sedemikian hingga yang di cintaiNya ada pada level kekasih di sampingNya. Indah nya..
Dalam setiap “jalan” yang diberikan olehNya, selalu sudah diukur, seberapa besar kemampuan yang dicintaiNya menanggung beban. Ia akan selalu memberikan solusi dari setiap beban yang membingungkan orang yang Ia cintai. Sehingga kedamaian meyusup dalam hati orang yang Ia cintai. Subhanallah, indahnya.
Ia akan memeluk orang yang Ia cintai, saat orang itu tertunduk, menagis pasrah, penuh rasa sakit, penuh derita, penuh sengsara, penuh cinta. Bersujud, memohon, memelas belas kasihNya. Ia akan melingkupi orang yang Ia dicintai dengan keimanan, keikhlasan dan keistiqomahan.
Saat orang yang Ia cintaiNya merana, terdholimi, terasing, diasingkan, berbuat kesalahan, khilaf, terpeleset, maka Ia selalu ada disampingnya. Ia selalu ada kapanpun dan dimanapun. Ia sangat dekat.
Rabb, sungguh inilah hambaMu yang dhoif. Bertempel dosa, dengan kemampuan memperbaiki diri yang sangat rendah, dengan keterbatasan kemampuan menebar indahnya KasihMu, dengan hati yang belum sepenuhnya bening…
Rabb, di compang campingnya hati ini. Hamba mohon, perkuat keimanan hamba.
Rabb, di compang campingnya kemampuan memperbaiki diri. Hamba mohon, teguhkan hamba berada di dalam syari’atMu dan berikan hamba kekuatan, menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, dengan ahsan..
Rabb, padaMu lah berlabuhnya hati..
Rabb, padaMu lah kehidupan ini kan berakhir..
Yaa muqollibal quluub, tsabbit qalbi ‘aladdiinik.
Malang, 23 juni 2010
Rabu, 23 Juni 2010
BERCERITA PADA DIRI
Maka, inilah makna kehidupan. Allah tidak pernah menciptakan sesuatupun tanpa tujuan. Inilah hidup. Semua selalu ada hikmahnya. Janji ALLAH yang pasti, menyatakan kebarokahan akan di dapat oleh orang-orang yang bertaqwa. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi , jika kamu orang-orang yang beriman” (3:139).
Dan sudah menjadi aliran yang mengalir pasti, setiap yang dicintai olehNya selalu diberi “jalan” untuk mendekat padaNya. Rintangan, cobaan, badai, hantaman. Semuanya akan di berikan, sedemikian hingga yang di cintaiNya ada pada level kekasih di sampingNya. Indah nya..
Dalam setiap “jalan” yang diberikan olehNya, selalu sudah diukur, seberapa besar kemampuan yang dicintaiNya menanggung beban. Ia akan selalu memberikan solusi dari setiap beban yang membingungkan orang yang Ia cintai. Sehingga kedamaian meyusup dalam hati orang yang Ia cintai. Subhanallah, indahnya.
Ia akan memeluk orang yang Ia cintai, saat orang itu tertunduk, menagis pasrah, penuh rasa sakit, penuh derita, penuh sengsara, penuh cinta. Bersujud, memohon, memelas belas kasihNya. Ia akan melingkupi orang yang Ia dicintai dengan keimanan, keikhlasan dan keistiqomahan.
Saat orang yang Ia cintaiNya merana, terdholimi, terasing, diasingkan, berbuat kesalahan, khilaf, terpeleset, maka Ia selalu ada disampingnya. Ia selalu ada kapanpun dan dimanapun. Ia sangat dekat.
Rabb, sungguh inilah hambaMu yang dhoif. Bertempel dosa, dengan kemampuan memperbaiki diri yang sangat rendah, dengan keterbatasan kemampuan menebar indahnya KasihMu, dengan hati yang belum sepenuhnya bening…
Rabb, di compang campingnya hati ini. Hamba mohon, perkuat keimanan hamba.
Rabb, di compang campingnya kemampuan memperbaiki diri. Hamba mohon, teguhkan hamba berada di dalam syari’atMu dan berikan hamba kekuatan, menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, dengan ahsan..
Rabb, padaMu lah berlabuhnya hati..
Rabb, padaMu lah kehidupan ini kan berakhir..
Yaa muqollibal quluub, tsabbit qalbi ‘aladdiinik.
Malang, 23 juni 2010
Dan sudah menjadi aliran yang mengalir pasti, setiap yang dicintai olehNya selalu diberi “jalan” untuk mendekat padaNya. Rintangan, cobaan, badai, hantaman. Semuanya akan di berikan, sedemikian hingga yang di cintaiNya ada pada level kekasih di sampingNya. Indah nya..
Dalam setiap “jalan” yang diberikan olehNya, selalu sudah diukur, seberapa besar kemampuan yang dicintaiNya menanggung beban. Ia akan selalu memberikan solusi dari setiap beban yang membingungkan orang yang Ia cintai. Sehingga kedamaian meyusup dalam hati orang yang Ia cintai. Subhanallah, indahnya.
Ia akan memeluk orang yang Ia cintai, saat orang itu tertunduk, menagis pasrah, penuh rasa sakit, penuh derita, penuh sengsara, penuh cinta. Bersujud, memohon, memelas belas kasihNya. Ia akan melingkupi orang yang Ia dicintai dengan keimanan, keikhlasan dan keistiqomahan.
Saat orang yang Ia cintaiNya merana, terdholimi, terasing, diasingkan, berbuat kesalahan, khilaf, terpeleset, maka Ia selalu ada disampingnya. Ia selalu ada kapanpun dan dimanapun. Ia sangat dekat.
Rabb, sungguh inilah hambaMu yang dhoif. Bertempel dosa, dengan kemampuan memperbaiki diri yang sangat rendah, dengan keterbatasan kemampuan menebar indahnya KasihMu, dengan hati yang belum sepenuhnya bening…
Rabb, di compang campingnya hati ini. Hamba mohon, perkuat keimanan hamba.
Rabb, di compang campingnya kemampuan memperbaiki diri. Hamba mohon, teguhkan hamba berada di dalam syari’atMu dan berikan hamba kekuatan, menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, dengan ahsan..
Rabb, padaMu lah berlabuhnya hati..
Rabb, padaMu lah kehidupan ini kan berakhir..
Yaa muqollibal quluub, tsabbit qalbi ‘aladdiinik.
Malang, 23 juni 2010
Kepada Hatiku, “Innallaha ma’ana”
Wahai hati, mengapa engkau begitu suka mengeluh?
Wahai hati, mengapa engkau tidak bangkit dari terpurukmu?
Wahai hati, hidupmu takkan berubah jika kau tak melakukan apapun!
Teringat seorang belahan jiwa. Seorang saudara dengan ikatan keimanan, saling mengenal saat kami kuliah.
Dia adalah orang dengan berjuta karya, aku heran. Ia selalu punya segudang kesempatan. Ia selalu sibuk. Waktunya tidak pernah habis untuk sia-sia. Setiap keluhnya, berlangsung dengan sebuah karya. Setiap rasa bersalahnya, bersambut dengan sebuah kerja. Aku heran.
Lalu, aku kembali pada diriku. Mengorek kembali dalam kedalaman ingatanku. Menguliti setiap peristiwa yang kualami.
Aku lebih suka terpuruk. Aku tidak mau menciptakan peluang untuk diriku sendiri. Aku terlalu suka mengeluh. Aku terlalu LEMAH.
Sedikit ketidakpercayaan orang lain, membuatku putus asa. Sedikit kritik, membuatku menangis. Sedikit kegagalan, membuatku diam. Sedikit cercaan membuatku berhenti berkarya.
Setiap waktu luang yang ku punya, ku manfaatkan dengan sia-sia. Berdalih capek dan refreshing, aku lebih suka tidur dan menghabiskan waktu dengan mengobrol, ketimbang melakukan hal produktif.
Tapi dia? Setiap luangnya, ia memikirkan jalan untuk dakwah ini. Ia gunakan untuk belajar. Ia bisa berkomuniksi dengan banyak bahasa. Setiap kesempatan ia ambil, dengan berbagai resikonya. Aku heran, ia hampir tidak pernah makan. Ia hanya tidur 3 jam sehari. Tapi hubungan sosialnya juga tidak berkurang. Banyak teman. Saat sibuk pun, tilawahnya masih bertahan 1 juz per hari. Ia tidak mudah goyah dengan cercaan, tidak mudah goyah dengan kegagalan. Ia tekun. Jika kami bersama, ia lebih suka belajar dan aku lebih suka bercerita dan bermain.
Mungkin benar kata orang, buatlah zona nyamanmu. Seperti Rasulullah, saat ada dalam periode dakwah sirriyyah. Membangun zona yang mendukung, mengabaikan yang tidak mendukung. Lalu, setelah kuat dan mempunyai penyokong, adalah saat mengajak musuh menjadi kawan. Membuat lawan menjadi saudara.
Membangu motivasi diri. Memperbaiki diri terus menerus. Dan selalu mengingat ALLAH, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (13:11)
Oleh karena itu,,
Wahai Hati, sungguh INGATLAH bahwa ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali meraka merubahnya..
Wahai hati, mengapa engkau tidak bangkit dari terpurukmu?
Wahai hati, hidupmu takkan berubah jika kau tak melakukan apapun!
Teringat seorang belahan jiwa. Seorang saudara dengan ikatan keimanan, saling mengenal saat kami kuliah.
Dia adalah orang dengan berjuta karya, aku heran. Ia selalu punya segudang kesempatan. Ia selalu sibuk. Waktunya tidak pernah habis untuk sia-sia. Setiap keluhnya, berlangsung dengan sebuah karya. Setiap rasa bersalahnya, bersambut dengan sebuah kerja. Aku heran.
Lalu, aku kembali pada diriku. Mengorek kembali dalam kedalaman ingatanku. Menguliti setiap peristiwa yang kualami.
Aku lebih suka terpuruk. Aku tidak mau menciptakan peluang untuk diriku sendiri. Aku terlalu suka mengeluh. Aku terlalu LEMAH.
Sedikit ketidakpercayaan orang lain, membuatku putus asa. Sedikit kritik, membuatku menangis. Sedikit kegagalan, membuatku diam. Sedikit cercaan membuatku berhenti berkarya.
Setiap waktu luang yang ku punya, ku manfaatkan dengan sia-sia. Berdalih capek dan refreshing, aku lebih suka tidur dan menghabiskan waktu dengan mengobrol, ketimbang melakukan hal produktif.
Tapi dia? Setiap luangnya, ia memikirkan jalan untuk dakwah ini. Ia gunakan untuk belajar. Ia bisa berkomuniksi dengan banyak bahasa. Setiap kesempatan ia ambil, dengan berbagai resikonya. Aku heran, ia hampir tidak pernah makan. Ia hanya tidur 3 jam sehari. Tapi hubungan sosialnya juga tidak berkurang. Banyak teman. Saat sibuk pun, tilawahnya masih bertahan 1 juz per hari. Ia tidak mudah goyah dengan cercaan, tidak mudah goyah dengan kegagalan. Ia tekun. Jika kami bersama, ia lebih suka belajar dan aku lebih suka bercerita dan bermain.
Mungkin benar kata orang, buatlah zona nyamanmu. Seperti Rasulullah, saat ada dalam periode dakwah sirriyyah. Membangun zona yang mendukung, mengabaikan yang tidak mendukung. Lalu, setelah kuat dan mempunyai penyokong, adalah saat mengajak musuh menjadi kawan. Membuat lawan menjadi saudara.
Membangu motivasi diri. Memperbaiki diri terus menerus. Dan selalu mengingat ALLAH, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (13:11)
Oleh karena itu,,
Wahai Hati, sungguh INGATLAH bahwa ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali meraka merubahnya..
Langganan:
Postingan (Atom)