Rabu, 23 Juni 2010

Kepada Hatiku, “Innallaha ma’ana”

Wahai hati, mengapa engkau begitu suka mengeluh?
Wahai hati, mengapa engkau tidak bangkit dari terpurukmu?
Wahai hati, hidupmu takkan berubah jika kau tak melakukan apapun!

Teringat seorang belahan jiwa. Seorang saudara dengan ikatan keimanan, saling mengenal saat kami kuliah.
Dia adalah orang dengan berjuta karya, aku heran. Ia selalu punya segudang kesempatan. Ia selalu sibuk. Waktunya tidak pernah habis untuk sia-sia. Setiap keluhnya, berlangsung dengan sebuah karya. Setiap rasa bersalahnya, bersambut dengan sebuah kerja. Aku heran.

Lalu, aku kembali pada diriku. Mengorek kembali dalam kedalaman ingatanku. Menguliti setiap peristiwa yang kualami.
Aku lebih suka terpuruk. Aku tidak mau menciptakan peluang untuk diriku sendiri. Aku terlalu suka mengeluh. Aku terlalu LEMAH.

Sedikit ketidakpercayaan orang lain, membuatku putus asa. Sedikit kritik, membuatku menangis. Sedikit kegagalan, membuatku diam. Sedikit cercaan membuatku berhenti berkarya.
Setiap waktu luang yang ku punya, ku manfaatkan dengan sia-sia. Berdalih capek dan refreshing, aku lebih suka tidur dan menghabiskan waktu dengan mengobrol, ketimbang melakukan hal produktif.

Tapi dia? Setiap luangnya, ia memikirkan jalan untuk dakwah ini. Ia gunakan untuk belajar. Ia bisa berkomuniksi dengan banyak bahasa. Setiap kesempatan ia ambil, dengan berbagai resikonya. Aku heran, ia hampir tidak pernah makan. Ia hanya tidur 3 jam sehari. Tapi hubungan sosialnya juga tidak berkurang. Banyak teman. Saat sibuk pun, tilawahnya masih bertahan 1 juz per hari. Ia tidak mudah goyah dengan cercaan, tidak mudah goyah dengan kegagalan. Ia tekun. Jika kami bersama, ia lebih suka belajar dan aku lebih suka bercerita dan bermain.

Mungkin benar kata orang, buatlah zona nyamanmu. Seperti Rasulullah, saat ada dalam periode dakwah sirriyyah. Membangun zona yang mendukung, mengabaikan yang tidak mendukung. Lalu, setelah kuat dan mempunyai penyokong, adalah saat mengajak musuh menjadi kawan. Membuat lawan menjadi saudara.
Membangu motivasi diri. Memperbaiki diri terus menerus. Dan selalu mengingat ALLAH, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (13:11)

Oleh karena itu,,
Wahai Hati, sungguh INGATLAH bahwa ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali meraka merubahnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar