Dakwah Selezat Brownies Coklat
Siapa yang tidak menyukai brownies coklat?? Nyamm..Pasti banyak yang menyukainya. Hanya orang-orang yang “alergi” coklat yang tidak menyukainya. Brownies coklat, rasanya yang begitu coklat, menggoda untuk segera disantap. Belum lagi dengan aroma legit dan tekstur kue yang lembut. Hmm..benar-benar lezat. Tapi ada masalah. Untuk mendapatkan brownies coklat yang benar-benar lezat, kita harus berkorban. Jika kita berniat untuk membuatnya, perlu tenaga dan bahan-bahan yang tidak murah harganya dan jika berniat untuk membelinya, tentu butuh uang cukup besar untuk membayarnya. Apalagi, untuk ukuran mahasiswa seperti kita.
Banyak bahan yang kita perlukan; tepung terigu, coklat bubuk, coklat blok, telur mentega, vanili, cream cheese. Untuk mendapatkan kue yang lezat, kita harus membeli bahan-bahan tersebut dengan kualitas terbaik. Masalah harga, jelas mahal. Setelah itu, kita juga perlu resep terlezat. Tidak semua resep menghasilkan rasa brownies yang lezat. Harus resep dari koki yang paling handal. Bagaimana mendapatkan resepnya, jelas harus mencari info dan memintanya dengan baik-baik pada koki tersebut.
Tidak berhenti sampai disitu. Alat-alat memasak dengan kualitas baik juga harus kita dapatkan. Microwave yang stabil panasnya, tempat adonan yang bersih, pengaduk elektrik (sebut : mixer) yang stabil gerakannya, cetakan kue yang bagus dan peralatan lain yang berukuran kecil. Hmm..darimana kita mendapatkan alat-alat tersebut, jelas harus membeli, atau kalau mau berhemat, bisa meminjam dari orang.
Bahan, resep dan alat telah siap. Sekarang kita lihat diri kita sebagai koki yang akan membuat kue. Seberapa besar pengetahuan kita tentang rasa, aturan pencampuran bahan, tekstur, batas kue mengembang, lama kue di oven. Cukupkah pengetahuan kita untuk proses pembuatan brownies yang kita impikan? Jika belum kita harus belajar dulu. Membaca buku, ikut pelatihan cara membuat brownies, kajian tentang kue, kursus atau belajar dari orang-orang terdekat kita.
Brownies yang lezat, harus dengan menyiapkan bahan, alat dan kemampuan yang cukup untuk membuatnya. Bahan yang berkualitas baik, alat yang stabil, pengetahuan tentang kue yang memadai. Sebenarnya, kita bisa saja membuatnya dengan sangat sederhana. Bahan, alat dan resep yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu banyak pengorbanan. Tidak mahal. Tidak capek dan tidak repot. Soal rasa, jelas tidak selezat yang sempurna. Bukannya tidak mungkin ada orang yang mau dengan brownies yang “biasa-biasa saja”. Banyak dari kita yang lebih memilih untuk mendapatkan brownies, walaupun dengan rasa yang biasa-biasa saja. Asal pernah makan brownies. Bahkan rela mengeluarkan banyak uang untuk rasa brownies yang tidak terlalu lezat, bahkan jauh dari kata “masih bisa dimakan”.
Mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak semudah yang kita fikirkan. Tapi bukan berarti tidak bisa kita dapatkan. Banyak cara yang bisa ditempuh. Yang jelas butuh pengorbanan.
Begitu juga dengan dakwah, butuh pengorbanan. Kita cukup jemu mendengarkan kata ini. Begitu dilontarkan, pasti kita membayangkan bagai ditimpa gunung berjuta-juta ton di pundak kita. Belum lagi suasana yang panas dan peluh yang kita keluarkan saat memikul gunung itu.
Ujung dari dakwah adalah ridho dan surga Allah, yang insyaAllah kita semua merindukannya. Mendapatkan ridho dan surga Allah, jelas butuh pengorbanan. Jika ridho dan surga Allah adalah brownies coklat lezat yang kita impikan, maka dakwah adalah bahan, resep, alat dan koki yang dibutuhkan untuk membuatnya. Bahannya insyaAllah sudah ada dalam diri kita. Iman. Inilah bahan dasar satu-satunya. Cukup dengan iman maka semua karya bisa kita lakukan. Resepnya berupa al qur’an dan sunnah. Alatnya adalah ibadah, baik kepada Allah maupun kepada mahlukNya. Dan kokinya adalah kita. Bahan, resep dan alat sudah tersedia. Yang perlu kita pertimbangkan adalah kita sebagai kokinya. Cukupkah ilmu kita, luaskah tsaqofah kita, seberapa besar kafa’ah kita, shalat kita, tahajud kita, komitmen kita, dan yang paling penting seberapa besar kerja dakwah yang kita lakukan.
Saudaraku, jika rindu terhadap surga ini tidak lagi menjadi suatu keraguan. Maka, buat apa harus merasa tidak mampu. Buat apa harus merasa rendah diri. Buat apa harus merasa sedih. Buat apa harus merasa tidak berarti. Buat apa harus merasa sendiri. Buat apa harus merasa “aku hanyalah”. Yang kita rindukan adalah surga. Bukan sekedar keinginan duniawi yang sesaat. Jika kita hanya menunggu disuruh, menunggu diberi, menunggu diajari, lalu kapan kita belajar dan berkarya. Kapan kita akan sampai pada surga yang indah itu.
Saudaraku, apa kita hanya menunggu diam disaat yang lain berlari menggapai surga. Apakah kita akan memilih pengorbanan yang biasa-biasa saja untuk menggapai surga. Atau kita cukup puas hanya "merasa" akan menempati surga.
teruntuk semua mujahid-mujahidah dakwah
putrisejuk@yahoo.com
2007-2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar